Senin, 15 Juli 2013

Vaksin itu Berbahaya!

"Vaksin itu berbahaya! Bagaimanapun pokoknya, saya tidak mau divaksin!"
Itulah yang ada di benak saya pada tahun 2011 silam saat saya menjalani proses pengurusan pernikahan, saya menolak untuk divaksin TT sebagai suksesi kepengurusan nikah di KUA. Saat itu adalah masa gencar-gencarnya antivaks menyerukan bahaya vaksin via media massa. Menurut faham saya waktu itu bibit vaksin diperoleh dari virus/bakteri yang dilemahkan oleh antibodi seseorang yang pernah sakit/dihinggapi virus/bakteri tsb dan orang itu selamat. Seseorang ini bisa saja narapidana/penjahat yang dengan diam-diam sengaja diteliti (dengan diinfeksi virus) dan dilihat daya tahannya. Keparnoan saya adalah jikalau si vaksin tersebut diciptakan dari orang yang tidak baik, apa jadinya jika saya memasukkan sesuatu yang 'buruk' kedalam tubuh saya? DNA saya dan keturunan saya akan dikotori oleh DNA orang jahat tadi! Sigh.. begitu naifnya fikiran saya saat itu.

Saya memanglah bukan ahli ataupun orang yang mengerti biologi, tetapi hikmah bekerja di lingkungan penelitian Fakultas Biologi mengajarkan saya banyak sekali ilmu yang tadinya tidak saya mengerti seperti: Virus bukanlah termasuk mahkluk hidup, dan ada yang namanya antibodi spesifik, antibodi ini hanya ada ketika kita sudah pernah terinveksi oleh penyakit/virus/bakteri tertentu.

Vaksin ibarat cetak biru untuk membentuk antibodi spesifik, jikalau kita tidak/belum mempunyai antibodi spesifik, bagaimana kita bisa membangun kekebalan bagi serangan virus tersebut. Ibarat perang, bagaimana kita akan menyerang jika kita belum tahu musuh yang bagaimana yang akan kita hadapi?

Jadi, mengapa tidak vaksinasi?

gambar diambil dari Wikipedia

Vaksin berbahaya
June 23, 2010 by admin3 · Leave a Comment 
Sebenarnya, vaksinasi adalah sangat aman, walaupun banyak publikasi berkaitan dengan anti vaksin yang mengartikan sebaliknya. Kejadian merugikan pada vaksinasi biasanya bersifat minor dan sementara, seperti lengan yang pegal atau demam ringan. Hal-hal tersebut biasanya dapat dikontrol dengan mengkonsumsi parasetamol setelah vaksinasi. Kejadian merugikan yang lebih serius jarang terjadi (dalam urutan 1 per ribuan dosis ke 1 per jutaan dosis), dan beberapa sangatlah jarang yang menyebabkan resiko tidak bisa dikaji dengan akurat. Mengenai pendapat bahwa vaksinasi menyebabkan kematian, lagi-lagi sangatlah sedikit jumlah kematian yang disebabkan oleh vaksinasi sehingga sangatlah sulit mengkaji resiko secara statistik. Semua kematian yang dilaporkan ke departemen kesehatan telah diperiksa secara menyeluruh untuk dikaji apakah kematian tersebut ada hubungannya dengan pemberian vaksinasi, dan apabila memang ada hubungannya, penyebab sesungguhnya juga dikaji. Setelah melalui pemeriksaan yang teliti, jika ada kejadian yang dirasa benar-benar berhubungan dengan pemberian vaksin, biasanya lebih sering ditemukan bahwa ada kesalahan program dan tidak berhubungan dengan pembuatan vaksin itu sendiri.Difteri Tetanus Pertusis/ Batuk Rejan dan udden Infant Death Syndrome (Sindrom kematian bayi mendadak)-(SIDS)
Salah satu mitos yang sepertinya tidak akan pernah hilang adalah bahwa vaksin DPT mengakibatkan Sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Kepercayaan ini datang karena cukup banyak anak-anak yang meninggal karena SIDS, baru saja mendapatkan vaksin DPT, yang sepertinya di permukaan, menjadi sebuah poin terhadap adanya hubungan sebab akibat. Logika ini adalah salah, sama seperti dengan logika berikut: makan roti menyebabkan kecelakaan mobil karena ada bukti yang mungkin bisa ditunjukkan bahwa kebanyakan supir yang mengalami kecelakaan baru saja makan roti dalam waktu 24 jam terakhir.
Kalau anda berpikir bahwa kebanyakan kematian yang disebabkan oleh SIDS terjadi diusia saat DPT diberikan, anda akan menemukan bahwa hanyalah kebetulan kalau SIDS terjadi didahului oleh imunisasi DPT. Kenyataannya, ketika beberapa kajian yang terkontrol dengan baik dilakukan di tahun 80-an, investigator menemukan, hampir seragam, bahwa kematian yang disebabkan oleh SIDS pernah sementara diasosiasikan dengan vaksin DPT karena terjadi secara kebetulan pada usia pemberian vaksin DPT. Dengan kata lain, SIDS tetap akan terjadi walaupun tidak ada vaksinasi yang diberikan.
Kenyataannya, beberapa kajian menunjukkan bahwa anak-anak yang baru saja menerima suntikan DPT, mempunyai kemungkinan yang lebih sedikit untuk terkena SIDS. The Institute of Medicine melaporkan bahwa” hasil dari semua kajian terkontrol yang membandingkan anak-anak yang diimunisasi dengan mereka yang tidak diimunisasi adalah tidak ada hubungan… atau resiko yang lebih rendah akan SIDS bagi anak-anak yang diimunisasi” dan disimpulkan bahwa “ bukti-bukti tidak mengarah ke hubungan sebab akibat antara vaksin [DPT] dan SIDS.”
Akan tetapi tidaklah cukup hanya dengan melihat resiko saja- anda harus selalu melihat dari kedua sisi yaitu resiko dan keuntungan. Bahkan satu kejadian merugikan yang serius dari jutaan dosis vaksin tidak bisa menjustifikasi bahwa tidak ada keuntungan yang didapat dari vaksinasi. Kalau tidak ada vaksin, kasus penyakit akan lebih banyak, yang akan menimbulkan lebih banyak efek samping dan kematian. Contohnya, menurut analisa resiko dan keuntungan yang dilakukan terhadap imunisasi DPT, kalau tidak ada program imunisasi di US, pertusis (batuk rejan) akan meningkat 71 kali dan kematian akibat pertusis (batuk rejan) akan meningkat 4 kali. Dengan membandingkan resiko yang didapat dari penyakit dan resiko yang didapat dari vaksinasi akan memberikan pandangan bagi kita tentang keuntungan yang dapat kita peroleh dari memvaksinasi anak-anak kita.Resiko dari penyakit VS resiko dari vaksin
Risiko penyakit campak :
- Radang paru-paru 1 dari 20 anak
- Radang otak 1 dari 2000 anak
- Meninggal 1 dari 3000 anak (di Negara maju), 1 dari 5 anak di Negara berkembang.
Risiko penyakit Gondongan :
- Radang otak 1 dari 300 anak
Risiko Rubella / campak Jerman:
- Infeksi rubella congenital 1 dari 4 ibu yang terinfeksi di awal kehamilan.
Risiko imunisasi MMR:
- Radang otak atau reaksi alergi yang serius 1 dari 1 juta anak
Risiko penyakit Diphteria :
- Meninggal 1 dari 20 anak
Risiko penyakit Tetanus :
- Kematian 25-70 dari 100 penderita.
Risiko Pertusis (batuk 100 hari / batuk rejan)
- Radang paru-paru 1 dari 8
- Radang otak 1 dari 20
- Kematian 1 dari 200
Risiko vaksin DPT:
- Menangis terus menerus dan sembuh sendiri 1 dari 100 anak.
- Sawan atau syok lalu sembuh total 1 anak dari 1750
- Radang otak 1-10 anak dari 1.000.000
- Kematian : tidak terbukti
Kenyataannya adalah seorang anak mempunyai kemungkinan untuk terluka lebih besar jika mereka terkena salah satu dari penyakit ini dibandingkan terluka karena vaksinasi. Walaupun ada banyak akibat serius atau kematian yang disebabkan oleh vaksin, tetapi sungguhlah jelas bahwa keuntungan vaksinasi adalah melebihi resiko yang relatif lebih sedikit, dan lebih banyak akibat serius dan kematian yang akan terjadi jika vaksinasi tidak diberikan. Bahkan sangatlah tidak masuk akal jika kita tidak menggunakan intervensi kesehatan seefektif vaksinasi dalam mencegah penyakit. (LUKI)
http://milissehat.web.id/?p=845

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...